169976456_10222734575145657_440928660599
STORY OF KUBU TEPI SAWAH
Wanaprasta Resort

Kubu Tepi Sawah Wana Prasta Resort. Nama Kubu diambil dari Bahasa Bali yang artinya hunian sederhana dari kayu.  Kubu biasanya berlokasi di area- area hutan atau persawahan sebagai tempat perisitirahatan saat bekerja di ladang, hutan dan sawah. Maka dari itu bangunan dari Kubu Tepi Sawah bermaterialkan kayu yang masih sangat natural. Dekorasi kubu tepi sawah terdapat banyak kepala buda yang berkaitan dengan spiritual. Wanaprasta sendiri artinya apabila kita sudah berumur atau sudah tua sebaiknya melepaskan diri dari keduniawian dan mengasingkan  diri ke hutan.

 

Kubu Tepi Sawah Wana Prasta Resort. Nama Kubu diambil dari Bahasa Bali yang artinya hunian sederhana dari kayu.  Kubu biasanya berlokasi di area- area hutan atau persawahan sebagai tempat perisitirahatan saat bekerja di ladang, hutan dan sawah. Maka dari itu bangunan dari Kubu Tepi Sawah bermaterialkan kayu yang masih sangat natural. Dekorasi kubu tepi sawah terdapat banyak kepala buda yang berkaitan dengan spiritual. Wanaprasta sendiri artinya apabila kita sudah berumur atau sudah tua sebaiknya melepaskan diri dari keduniawian dan mengasingkan  diri ke hutan.

Setiap tamu yang berkunjung ke Kubu Tepi Sawah dan masuk di pintu gerbang kedua akan disambut oleh kolam yin yang dimana memiliki  philosophy bahwa dalam kehidupan, hitam dan putih, baik dan buruk tidak dapat terpisahkan. Simbol Yin Yang melambangkan kehidupan harus melalui beberapa proses lika liku. Di kolam yin yang terdapat binatang kura-kura dan kodok. Kura-kura memiliki arti selalu maju, Apabila merasa terancam dia hanya akan memundurkan kepalanya saja (tidak pernah mundur) Sedangkan kodok  dalam agama hindu adalah jelmaan dari Dewa Wisnu yang melambangkan kesuburan dan kemakmuran  juga bisa hidup di darat dan di air yang artinya dapat beradaptasi dimana saja.

Disebelah kolam yin yang terdapat dapur dimana dalam arsitektur bali memiliki makna bahwa dapur di letakan di depan dengan tujuan siapapun yang masuk ke area pekarangan tersebut jika membawa hal-hal yang kurang baik akan di lebur di dapur terlebih dahulu.

            Disana juga terdapat sepeda tua, dimana dalam hidup kita bisa mengambil philosophynya bahwa harus tetap mengayuh sepeda untuk mempertahankan keseimbangan, terkadang kehidupan kita diatas dan juga terkadang dibawah seperti pedal sepeda tersebut. Jika kita ingin selamat tetaplah gayuh sepeda.

            Disana juga terdapat terdapat patung kakek tua dimana menjadi simbol Wana Prasta yang artinya apabila kita sudah berumur atau sudah tua sebaiknya melepaskan diri dari keduniawian dan mengasingkan  diri ke hutan.

            Kami juga menyediakan topi petani yang terbuat dari bambu yang berisi tulisan dalam  dua bahasa (bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris ) yang dapat digunakan oleh para tamu pada saat trekking dan memperkenalkan budaya bali dan memperkenalkan bahasa Indonesia kepada bule dan Bahasa Inggris kepada tamu lokal

            Semua kamar yang ada di Kubu Tepi Sawah berbahan dasar kayu, dimana kayu bersal dari kata Kayun yang artinya pikiran. C.E.O Care & Love menginginkan agar tamu yang tinggal di Kubu Tepi Sawah dapat meneduhkan pikirannya dibawah joglo yang ditempati.

            Kamar nomor 1 atau joglo 1 adalah rumah geladag, yang sebenarnya rumah geladag tersebut dibungkus oleh kayu, tetapi saat ini sudah di impruvisasi oleh C.E.O Care & Love dengan menggunakan kaca sehingga para tamu dapat melihat pemandangan secara bebas dengan tujuan memiliki pemikiran yang terbuka dan tidak terkungkung.

Tempat tidur di joglo 1 dibuat dengan konsep seperti frame, karena apabila ada tamu yang berfoto disana akan terlihat seperti aktor yang sedang acting 

            Dan joglo 2 memiliki cermin besar diatas tempat tidur yang memberikan pesan jadilah seperti cermin yang selalu memberitahu keburukan atau kebaikan temannya

            Setiap bangunan joglo memiliki perapian karena Belimbing adalah daerah yang dingin, sehingga membuat liburan para tamu menjadi lebih hangat.

            Di kubu tepi sawah variasi makanan dibuat tidak terlalu banyak dengan konsep vegetarian, dimana para tamu akan makan beralaskan dulang yang bertujuan untuk memperkenalkan budaya Bali dan Produk Lokal.